embroidery, needlework, cross-stitch

DIY Toys: Bikin Mainan yang bukan main-main

Penulis: Ressa Nur Oktiani

Rumah Main DIY Toys Ibu Profesional Bandung

Anak adalah anugerah sekaligus amanah. Dalam menemani tumbuh kembangnya, sejumlah pekerjaan rumah menanti. Khususnya urusan menstimulasi anak. Mendapati fakta tersebut, saya merasa berat bahkan terbebani. Namun, saya memutuskan untuk memulai saja tanpa banyak pikiran terlebih dahulu.

Sampai suatu saat takdir Allah mempertemukan saya dengan Rumah Main (Rumin) DIY Toys Ibu Profesional Bandung; sebuah komunitas bebikinan mainan anak yang bukan sekadarmainan biasa.

Ketika menjalani aktivitas bersama Rumin DIY Toys Ibu Profesional Bandung dan mulai bebikinan, kok jadi ketagihan. Alhamdulillah saya menemukan sisi menyenangkan dalam menjalani peran sebagaimadrasahnya anak-anak ini.

Memberikan pendidikan pada anak ternyata bisa dilakukan dengan menggunakan media ajar yang terbuat dari bahan-bahan sederhana. Dalam hal ini barang-barang yang bisa kita temukan di rumah. Melalui barang-barang tersebut, dengan sedikit ‘sulap’, dapat menjadi sarana stimulasi tumbuh kembang anak.

Bebikinan memang tidak sesederhana kelihatannya, bahkan karya yang susah payah kita buat tak jarang mendapat komentar, “Oh, gitu doang.” Namun, justru dengan susah payah dan akhirnya berhasil membuat karya bebikinan itu yang melahirkan kepuasan tersendiri.

Proses susah payah itu bisa berupa proses mendapatkan ide atau waktu pengerjaan yang harus dilakukan ketika anak-anak tidur (kadang harus dikerjakan tengah malam). Proses pengumpulan bahannya juga menantang karena harus menunggu sekian dus bekas dulu dari paket-paket yang dikirim kurir.

Berdasarkan itu semua, saya jadi lebih menghargai nilai sebuah karya, baik yang dibuat oleh saya sendiri maupun orang lain.

Sebab dengan proses susah payah tersebut, saya memahami bukan material atau teknik pembuatannya yang ‘mahal’, tapi ide dan pengorbanan yang dicurahkan untuk karya tersebut.

Lalu timbul pertanyaan. Apakah anak menyukai karya yang kita buat? Faktanya, anak tidak begitu peduli dengan aspek kerapian bebikinan atau kecemerlangan ide bebikinan yang kita buat.

Seringkali hal yang mereka tangkap dari karya kita adalah bahwa kita, orangtuanya, ternyata peduli dengan mereka. Perhatiannya berwujud membuatkan mainan khusus untuk mereka.

Kalaupun anak kelihatan kurang antusias atau kebingungan di awal, kemungkinan besar karena belum mengetahui cara memainkannya atau masih butuh pembiasaan memainkan mainan yang ‘tidak biasa’ tersebut.

Membuat mainan atau bebikinan dari barang-barang sederhana yang ada di rumah adalah sesuatu yang luar biasa dan banyak manfaatnya. Namun ternyata poinnya bukan hanya itu saja. Bebikinan mainan berperan untuk menstimulasi tumbuh kembang anak sesuai dengan fasenya. Inilah kelebihan value atau nilai yang diangkat.

Selain itu, hal yang menakjubkan dari bebikinan adalah menguatkan kelekatan antara anak dan orangtuanya. Anak akan merasa bahagia ketika mengetahui orangtuanya begitu perhatian pada mereka dengan membuatkan mainan. Di sisi lain, orangtua merasa sangat bahagia ketika anak-anak larut memainkan karya yang kita buat.

Menurut saya, manfaat lain bebikinan adalah bisa menjadi semacam self healing bagi ibu yang sudah seharian disibukkan dengan urusan-urusan domestik, pekerjaan kantor, atau rutinitas lainnya. Bahkan, jika ayah mau ikut terlibat, bebikinan ini bisa juga menjadi proyek keluarga.

Banyak cara untuk membersamai tumbuh kembang anak dan mendidik mereka, namun sejauh ini saya sangat menikmati membersamai tumbuh kembang anak dengan bebikinan DIY Toys ini

Karena anak-anak butuh BERMAIN, TEMAN BERMAIN terbaiknya adalah Ayah dan Bundanya, MAINAN termahalnya adalah yang dibuat sendiri dengan cinta ♥

Salam Bebikinan!

Leave a Comment