bumi kita, environmental protection, nature conservation, ecology

Bumi Kita

Penulis : Mahya Rofi’ah Ahmad

Hola Bunda, Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga tetap semangat di tengah hiruk pikuk rutinitas rumah atau kantor ya. Sambil rehat sejenak dari kepadatan aktivitas harian, mari bercerita mengenai bumi kita.

Pernahkah Bunda memperhatikan perubahan gaya hidup masyarakat? Semua serba instan. Dengan perkembangan teknologi yang pesat memang menjadi hal yang lumrah ya. Tapi tanpa kita sadari hal ini menyebabkan banyak dampak negatif pada lingkungan. Lingkungan di sekitar menjadi tercemar. Buktinya ada banyak sungai menjadi hitam pekat dan berbau, terjadi longsor sampah, banjir, kebakaran hutan, pencemaran air laut, dan masih banyak lagi.

Tanpa disadari juga, hal ini akan berdampak pada kehidupan kita sehari-hari. Contoh dampaknya adalah berkurangnya ketersediaan air, peningkatan suhu bumi, serta bahan dan kualitas makanan.

Kok bisa?

Hal itu terjadi karena semua hal yang terjadi di Bumi saling berkaitan satu sama lain. Berkurangnya ketersediaan air disebabkan oleh semakin berkurangnya lahan hijau akibat pembangunan dimana-mana. Wajar ada banyak pembangunan karena jumlah manusia semakin banyak, tapi bukan berarti hal tersebut membuat kita tidak peduli dan pasrah saja. Masih ada yang bisa kita lakukan, membuat sumur resapan contohnya.

Sayangnya, lahan untuk sumur resapan tidak kecil. Minimal harus ada lahan berdiameter 80 cm berdasarkan SNI no 03-2459-1991. Tapi masih ada cara lain yang cenderung tidak membutuhkan banyak lahan seperti biopori. Selain membantu untuk peresapan air, biopori pun bisa digunakan untuk mengompos sampah dapur –sampah yang masih mendominasi hampir 80% dari produksi sampah harian kita.

Langkah penting lainnya adalah jangan lupa untuk menghemat penggunaan air. Gunakan air secukupnya dan jangan lupa matikan keran jika sedang tidak digunakan. Pastikan perpipaan di rumah tidak bocor ya, karena perpipaan yang bocor sumber dari pemborosan yang tidak terasa. Pernah nih kejadian di rumah saya. Air Torn yang tadinya penuh jadi tinggal ⅓ nya padahal belum dipakai. Eh malah curcol 🙈.

Selain ketersediaan air, suhu bumi yang semakin panas juga makin terasa ya. Organisasi Metrologi Dunia (WMO) menyatakan adanya kemungkinan kenaikan suhu lebih dari 1,5 derajat per tahun hingga tahun 2024. Wuih kebayang kan akan sepanas apa bumi jika kita tidak peduli. Lalu bagaimana caranya kita berkontribusi menstabilkan suhu bumi?

Mulai dengan menyediakan lahan hijau di rumah. Kalau tidak memungkinkan menanam tetumbuhan langsung di tanah, cobalah di pot. Selain itu teliti penggunaan freon. Perpendek jejak karbon di aktivitas kita. Jika kita sering menggunakan kendaraan bahkan untuk berbelanja di tempat yang jaraknya tak terlalu jauh, maka mulailah berjalan kaki atau gunakan sepeda. Jika tidak memungkinkan coba berbelanja sekaligus seminggu atau sebulan.

Tahukah Bunda bahwa membakar sampah bukan pada tempatnya (alat insenerator) bisa menimbulkan kerugian. Selain meningkatkan kadar gas CO2 (karbon dioksida) di atmosfer, aktivitas ini juga bisa menimbulkan gas CO (karbon monoksida) yang beracun jika terhirup. Hal ini terjadi karena adanya ketidakseimbangan kadar oksigen saat membakar. Sampah yang terpapar oksigen hanyalah sampah yang posisinya paling luar, sedangkan yang lebih dalam tidak terpapar oksigen yang cukup. Berbeda dengan pembakaran sampah yang kadar oksigennya terkontrol di insenerator.

Untuk mengatasi permasalahan sampah ini kita bisa mulai dengan memilah sampah. Memisahkan sampah yang bisa dimanfaatkan dan sampah yang tidak bisa dimanfaatkan kembali. Plastik-plastik kemasan bisa dipakai ulang untuk membungkus paket atau sekedar sebagai penampung sampah yang akan kita buang ke TPS.

Sampah kertas yang sudah terisi kedua sisinya bisa didaur ulang menjadi kertas daur ulang atau kerajinan tangan. Sampah jenis ini pun bisa diberikan pada pemulung atau dijual ke tukang loak bersamaan dengan sampah plastik bekas botol kemasan.

Sampah dapur dapat dijadikan kompos atau ditumbuhkan di kebun rumah. Banyak jenis sampah sayur yang ternyata dapat di-regrow. Usaha ini pun dapat menghemat pengeluaran berbelanja Bunda sehari-hari.

Nah pembahasan tentang sampah dapur ini akan dibahas di webinar yang diadakan oleh Rumba Cibiru yang insya Allah akan diadakan awal April 2021. Webinar ini diisi oleh salah seorang member Ibu Profesional yang juga praktisi green living dan hidroponik. Berminat ikut?

1 thought on “Bumi Kita”

  1. Pingback: 7 Langkah Selamat Dari Bencana Alam - Ibu Profesional Bandung

Leave a Comment