Tujuh Mitos Seputar Nutrisi Anak

“Jangan pakai micin, nanti anak jadi bodoh!”

“Kok, anaknya kecil, sih, Bunda. Makannya kurang, tuh!”

“Buah hatinya dikasih susu, dong, Bund. Biar pintar dan nggak lemes!”

Bunda mungkin pernah mendengar beberapa celoteh di atas, ya. Meskipun belum tentu ucapan itu benar, kebanyakan orang tua memercayai mitos tersebut sebagai sebuah kebenaran.

Nah, sebagai orang tua, Bunda pasti berusaha memberikan makanan dan minuman terbaik dan sehat untuk menunjang tumbuh kembang buah hati. Namun, sering kali kita sebagai orang tua, justru terjebak pada mitos yang salah.

Tumbuh kembang anak memang dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah nutrisi dan gizi. Sering ya, sebagai orang tua, kita mendengar soal makanan atau minuman yang katanya bisa membuat anak tinggi ataupun cerdas. Selain itu ada mitos beberapa bahan makanan yang tidak boleh dikonsumsi anak karena dapat membuat anak menjadi bodoh.

Yuk, kita bahas tentang tujuh mitos seputar nutrisi anak:

  1. Stunting disebabkan karena kurang makan

Stunting atau kerdil, tidak disebabkan karena anak kurang makan, tetapi karena kurangnya asupan gizi dan nutrisi. Jadi, Bunda jangan hanya berpedoman pada kuantitas makan si kecil yang banyak, tetapi juga perlu memperhatikan kualitas makanan anak.

Kurang gizi tidak hanya berpengaruh pada tumbuh kembang anak, tetapi juga berdampak pada kesehatannya. Anak yang kurang gizi, biasanya akan lebih mudah sakit karena daya tahan tubuh yang lemah.

“Anak saya makannya banyak, tetapi kenapa tidak tinggi-tinggi?

Bunda, faktor tinggi badan pada anak, tidak sepenuhnya bergantung pada kuantitas ataupun kualitas makanan yang dikonsumsinya. Ada banyak faktor penyebab anak menjadi lebih tinggi, misalnya genetik ataupun karena aktivitas olahraga yang dilakukannya.

  1. Susu sapi membuat anak menjadi cerdas

Kecerdasan buah hati tidak tergantung sepenuhnya pada makanan dan minuman yang dikonsumsi anak. Susu memang mengandung AHA dan DHA yang dipercaya bagus untuk meningkatkan kecerdasan anak. Namun, bukan hanya susu formula yang mengandung AHA dan DHA, tetapi juga ASI aliaa Air Susu Ibu.

Bagaimana bila setelah ASI anak tidak mau minum susu formula, atau susu kotak? Ayah Bunda tidak perlu cemas ketika si kecil tidak mau atau tidak bisa mengonsumsi susu formula yang berasal dari susu sapi. Susu soya atau susu berbahan dasar dari kedelai, bisa menjadi susu pengganti nutrisi bagi anak yang alergi ataupun tidak suka dengan susu sapi.

“Anak saya minum susu, tapi, kok, tidak pintar?”

Bunda, faktor kecerdasan bukan hanya dari susu ataupun makanan yang dipercaya dapat mencerdaskan anak. Kecerdasan membutuhkan stimulasi (rangsangan) dari luar, bukan hanya dari makanan ataupun minuman yang dikonsumsi anak. Jadi, kalau Bunda ingin buah hatinya cerdas, jangan lupa juga selalu mengajak si kecil bermain asah otak untuk melatih kecerdasannya.

  1. Susu membuat gemuk

Banyak orang tua yang memaksa anak meminum susu dengan tujuan membuat buah hati menjadi gemuk. Sebaliknya, orang tua yang memiliki anak yang gemuk, akan melarang anaknya mengonsumsi susu. Sebetulnya Bunda, kurus atau gemuknya buah hati kita, tidak hanya disebabkan oleh susu. Susu memang penting dikonsumsi anak dalam masa pertumbuhan karena dapat memperkuat tulang dan gigi.

Dibandingkan negara India, Indonesia termasuk negara yang tingkat konsumsi susunya sangat rendah. Apakah susu membuat gemuk? Segelas susu hanya mengandung 122 kalori. Kegemukan disebabkan karena konsumsi nutrisi yang berlebih.

Kalori yang dibutuhkan anak usia 10 tahun sekitar 2000 Kkal per hari. Artinya, anak harus mengonsumsi lebih dari 16 gelas susu untuk memenuhi kebutuhan kalorinya per hari. Satu gelas susu hanya memenuhi kurang dari 10% kebutuhan anak akan kalori.

  1. MSG atau penyedap rasa dapat merusak otak

Mitos satu ini pasti sangat sering didengar, ya? Mungkin jadinya Bunda melarang buah hati mengonsumsi jajanan yang dijual. Monosodium Glutamat (MSG) atau penyedap rasa— biasa kita kenal juga sebagai micin—biasa ditambahkan pada bakso ataupun makanan lainnya untuk membuat terasa lebih lezat. Banyak orang beranggapan bahwa MSG adalah zat berbahaya yang dapat membuat otak anak menjadi rusak sehingga menyebabkan kebodohan.

Benarkah demikian?

Penggunaan penyedap rasa dalam makanan sebenarnya sah dan aman-aman saja jika tidak melebihi takaran. Bukan hanya penyedap rasa, bahkan gula ataupun garam akan menjadi berbahaya jika dikonsumsi secara berlebihan.

Lalu, berapa konsumsi aman untuk penyedap rasa?

Kemenkes RI merekomendasikan batas aman konsumsi penyedap rasa adalah 5 gram per hari. Berapa banyak penyedap rasa yang digunakan Bunda saat memasak sayur? Biasanya tidak lebih dari satu sachet (sekitar 8-9 gram) untuk dikonsumsi satu keluarga.

Jadi, Bunda tidak perlu terlalu risau ketika anak sesekali jajan di luar. Tentu saja harus diimbangi dengan konsumsi buah, sayur-sayuran serta air putih yang cukup sehingga anak tidak selalu bergantung pada junk food atau jajanan yang banyak mengandung MSG.

  1. Sarapan membuat anak mudah mengantuk dan bikin gemuk

Pernah dengar mitos ini? Sarapan sangat penting buat anak, ya, Bunda. Jadi, jangan pernah lupa meminta anak untuk sarapan sebelum beraktivitas.

Kenapa sarapan penting?

Sarapan menjadi sangat penting karena di saat tidur, gula darah berkurang dalam tubuh. Setelah bangun tidur, tubuh memerlukan sarapan sebagai ‘bahan bakar’ untuk beraktivitas, setelah berkurangnya energi saat tidur malam. Sarapan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan energi anak dalam kegiatan dari pagi hingga siang.

“Mengapa anak saya selalu ngantuk setelah sarapan?”

Bila sarapan membuat mengantuk dan lemas, bisa jadi karena komposisi sarapan tidak tepat. Terlalu banyak karbohidrat dan gula memang membuat anak mudah mengantuk. Jadi, jangan lupa berikan serat yang cukup (sayur dan buah), juga protein, baik itu susu ataupun lauk pauk berupa telur, daging, tempe dan tahu, di dalam menu sarapan si buah hati, ya, Bund!

Oh iya, Bunda, sarapan itu tidak harus selalu nasi, ya. Tidak mengapa jika anak lebih suka sarapan dengan sereal dan buah ataupun roti dengan selai buah atau cokelat. Intinya, jangan biarkan perut si kecil masih dalam keadaan kosong ketika dia akan melakukan aktivitas.

  1. Anak memerlukan vitamin atau suplemen tambahan guna menjaga kesehatan

Sebetulnya, buah hati Bunda tidak perlu nutrisi tambahan dalam bentuk vitamin atau suplemen selama kebutuhan gizinya terpenuhi. Bagaimana memenuhi kebutuhan gizinya? Tentunya dengan memperhatikan komposisi makanan yang dikonsumsi si kecil. Usahakan agar komposisi makronutrien (karbohidrat, lemak dan protein) serta mikronutrien (vitamin pada sayur dan buah) seimbang. Namun, bila ragu dan merasa kebutuhan itu belum tercukupi, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter spesialis anak terlebih dahulu, sebelum memberikan vitamin atau suplemen.

  1. Makanan manis membuat anak hiperaktif

Berbagai studi menyimpulkan tidak ada hubungan antara konsumsi gula dengan hiperaktivitas. Para ahli percaya anak bisa berperilaku tidak terkendali karena faktor lain seperti kurang tidur, pola makan yang buruk, dan jarang beraktivitas fisik.

Mitos ini berawal pada tahun 1973, di mana seorang ahli alergi Benjamin Feingold menyatakan bahwa gula, zat pewarna dan substansi lain pada makanan terkait dengan perilaku hiperaktif anak-anak. Sementara para peneliti di era sekarang tidak menemukan adanya keterkaitan antara konsumsi gula dengan perilaku hiperaktif si kecil. Membatasi konsumsi gula pada anak, baik untuk mencegah timbulnya risiko obesitas, serangan jantung dan kerusakan gigi.

Dilansir dari detik.com, dr Asri Maharani, MS, PhD mengatakan, sejak dini, anak sebaiknya dibiasakan untuk tidak terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Beliau mengingatkan, gula bukan hanya berasal dari gula seperti gula pasir, tetapi juga makanan yang mengandung gula.

Dalam keseharian, anjuran maksimal konsumsi gula yakni 4 sdm per orang per hari. Apalagi, makanan tinggi gula umumnya mengandung kalori yang cukup banyak.

Demikian beberapa mitos mengenai nutrisi pada anak. Tetap semangat, ya, Bund, untuk memberikan yang terbaik buat si kecil. Salam sehat selalu, serta jangan lupa untuk selalu memberi pelukan dan juga kecupan untuk buah hati. Selain makanan dan minuman yang sehat, cinta dan kasih sayang adalah nutrisi terpenting untuk jiwa anak.

Leave a Comment