7 Langkah Selamat Dari Bencana Alam

hurricane, devastation, charley

Bencana alam sering menimbulkan korban jiwa, Oleh sebab itu bekal penyelamatan diri sangat penting dilakukan untuk mengurangi jatuhnya korban.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jawa Barat merupakan wilayah rawan bencana. Dari 27 kabupaten/kota, 14 daerah berada dalam kategori risiko bencana tinggi, sedangkan 13 daerah mempunyai risiko bencana sedang.

Sebagai bagian dari komponen yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan, Sejuta Cinta Ibu Profesional Bandung bekerja sama dengan DMII ACT mengadakan acara webinar dengan tema “Keluarga Tanggap Bencana dan Perubahan Iklim”. Harapannya, setiap orang terutama para ibu bisa memiliki pengetahuan untuk melakukan tindakan awal ketika terjadi bencana alam. 

Hadir sebagai narasumber Ujang D Lesmana, Instruktur Training of Trainer Medical First Responder. Di awal pemaparan, Ujang menjelaskan tentang hasil penelitian yang dilakukan ketika terjadi gempa di Kobe, Jepang, yaitu 34.9% berhasil melakukan penyelamatan diri sendiri dan itu dilakukan para perempuan.

Penelitian ini mengisyaratkan bahwa perempuan adalah sosok tangguh yang memiliki peran penting dalam menyelamatkan keluarga dan mendidik anak-anak tentang kebencanaan. 

“Perempuan itu memiliki insting yang kuat untuk melindungi keluarga terutama anak anaknya ketika terjadi bencana. Meskipun tidak bisa membaca peta ketika dalam perjalanan, jangan remehkan kaum perempuan. Maka penting bagi para ibu untuk tahu bagaimana menghadapi bencana, minimal bisa mengurangi risiko terjadinya korban” Kata Ujang.

Ujang menambahkan ada 7 langkah selamat dari bencana alam yang bisa diterapkan di dalam keluarga, yaitu: 

1. Kenali dan identifikasi sumber bencana di tempat lingkungan tinggal 

Langkah awalnya adalah membuat daftar tentang bencana yang pernah terjadi di lingkungan kita, kemudian cantumkan tahun kejadian. Dari sini bisa terlihat periode terjadinya bencana. Jika frekuensi kejadian terulang dalam beberapa tahun, maka bisa lakukan persiapan untuk bencana yang bisa diduga seperti banjir. Informasi kejadian ini bisa dapat dari tetangga, lembaga kemanusiaan, media dan inarisk, yaitu aplikasi yang akan membantu seseorang untuk mengetahui ancaman bencana sekaligus bagaimana langkah mengantisipasinya.

2. Analisis risiko bencana

Ini berkaitan dengan seberapa besar ancaman dan dampak yang terjadi di tempat kita tinggal ketika terjadi bencana. Ada standar yang dipakai untuk menentukan hal ini dalam skala 1-5. 

Analisis ini merupakah hasil perkalian antara nilai tingkat probabilitas (keseringan) dengan nilai tingkat keparahan (severity) dari masing masing bahaya. Hasilnya ada dalam tabel berikut:

Tabel analisa resiko bencana alam

Misalnya : 

Banjir tingkat keseringan 5 dan keparahannya 3, maka hasilnya 15 ini menunjukkan tingkat risiko banjir termasuk yang tinggi di wilayah kita tinggal.

3. Buatlah rencana kedaruratan

Selain memperkuat bangunan rumah seperti dinding, hal lainnya adalah adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) keluarga yang dihasilkan. Misalnya, ketika terjadi bencana maka titik kumpulnya di mana, langkah apa yang kemudian dilakukan bersama.  Rencana ini penting dilakukan, sehingga ketika terjadi bencana semua orang bisa melakukan langkah awal.

4. Siapkan peralatan penyelamatan diri dan berlatih

Persiapan yang harus dilakukan berkaitan dengan poin ini adalah survival kit dan first aid serta berlatih jika dalam keadaan darurat, misalnya bagaimana menyelamatkan diri. Untuk survival kit, kebutuhan yang harus dipersiapkan adalah makanan siap santap, siap olah dan akan digunakan untuk bertahan selama 72 jam (3 hari). Begitu pun dengan pakaian anggota keluarga yang dipersiapkan. Semua kebutuhan ini dimasukkan dalam sebuah tas, disimpan di luar dan terhindar dari binatang serta pengaruh cuaca langsung agar ketika terjadi bencana bisa segera dibawa.

5. Amankan rumah dari dampak bencana dan lakukan simulasi bersama keluarga

Bagi yang rumahnya dikelilingi bangunan berkaca, maka ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu memasang stiker di kaca tersebut. Fungsinya apa? Agar ketika terjadi gempa, kaca tersebut tidak langsung pecah, karena melekat di stiker. Simulasi dan pembagian peran pun mulai bisa dilakukan, misalnya si kakak yang ikut pelatihan P3K di sekolah, adik yang mendirikan tenda. Hal ini bisa meminimalisir jatuhnya korban atau kondisi yang lebih parah. 

6. Lakukan tindakan penyelamatan, pertolongan pertama, upaya awal saat terjadi bencana

Jika terjadi bencana (gempa) maka hal yang perlu diingat adalah DROP, COVER dan HOLD ON (penjelasan ada di gambar)

3 Gerakan awal penyelamatan diri dari gempa

Ketika selesai gempa maka kemudian bisa lakukan evakuasi. Ada hal penting yang perlu diingat, yaitu DORALALI (jangan saling dorong, tidak perlu berlari, jangan berteriak karena bisa menyebabkan kepanikan dan jangan kembali ke tempat asal sebelum dinyatakan aman).

7. Pasca bencana : bersihkan rumah dan lingkungan serta pembangunan kembali 

Setelah dinyatakan aman, maka aktivitas membersihkan rumah dan lingkungan pun bisa dilakukan. Tentunya dengan tetap memperhatikan kondisi di sekitar termasuk menggunakan perlengkapan yang aman dan melindungi tubuh. 

Itulah 7 langkah yang bisa dilakukan ketika terjadi bencana. Harapannya tentu kita bisa lebih bersiap dan melakukan langkah awal ketika terjadi sesuatu yang tidak terduga, termasuk dengan tindakan awal yaitu menjaga bumi dan lingkungan sekitar kita dengan sebaik baiknya.

Penulis: Erni Arie Susanti

Leave a Comment