children, kids, childhood

SIARAN MQFM : “MENGENALKAN RESIKO PADA SI PEMBERANI”

De, jangan, bahaya!

Jangan ke sana ah, bahaya!

Udah, jangan mainin ini jadi jatuh kan?

Hayoo, hayoo, siapa yang suka mengutarakan ini pada anak-anak yang sedang asyik bermain di sekitaran barang-barang “berbahaya” atau jenis permainan yang cukup membuat senut-senut jantung dan lutut mamak bapaknya.

Harap dimaklumi ya, Bun. Fitrah anak adalah bermain. Proses terbaik mereka dalam belajar dan eksplorasi lingkungan di sekitarnya adalah bermain. Maka tak ayal dari awal kematangan koordinasi gerak mereka, Bunda harus mulai menyiapkan hati untuk menemani mereka berhadapan dengan resiko-resiko yang ada.

Mereka akan merangkak ke kolong meja, memanjat kursi atau sofa, berlari sambil melompat, menjatuhkan diri, dan melakukan berbagai atraksi atraksi hebat yang tak pernah terduga.

Hebat kan Bun? Apalagi anak-anak yang memang mempunyaai tenaga “SUPER”, fiuh rasanya memang butuh kesiapan fisik dan mental dua kali lipat yaa.

Anak-anak kadang terlihat tidak punya rasa takut. Segala permainan ingin dicoba, dimainkan dengan versi masing-masing.

Yuk, kami  moderasi agar Ayah Bunda tenang dan kebutuhan anak mengenal lingkungan dapat terpenuhi. Bagaimana cara menghadapi anak yang sedang aktif-aktifnya?

Pertama, siapkan diri Ayah dan Bunda. Siapkan dan belajar untuk merespon anak secara tepat serta tidak berlebihan. Misalnya tidak berteriak ketika mereka terbentur meja saat asik bermain di kolong, atau terjatuh ketika mereka mencoba mempercepat lari.

Pengontrolan respon orang tua adalah kunci untuk mengenali alasan dibalik reaksi anak. Apakah tangisan anak karena kesakitan  atau karena kaget melihat respon orang tua yang berlebihan.

Stay Calm” ya parents.

Sebab terjatuh, terbentur, dan terluka adalah pengalaman bagi mereka untuk mengenal resiko. Walaupun tidak semua kesakitan harus mereka alami, namun bisa diakali dengan memuaskan keingintahuan indranya, yaitu melakukan percobaan.

Misalnya dengan memperlihatkan proses kertas terbakar dengan menggunakan lilin sehingga indra penglihatannya bisa mengamati prosesnya, kemudian indra perabanya mampu merasakan hangat juga panas ketika sedikit dekat dengan api yang ada di lilin tersebut.

Sehingga ini adalah modal “sounding” kepada anak kedepannya apabila mereka berdekatan dengan api.

“Nak, Hati-hati ada api yaa, panas.”

Juga, ketika mereka dihadapkan pada barang-barang yang beresiko, Bunda dapat mengutarakan resiko-resiko apa saja yang dapat terjadi, sehingga anak mampu mengontrol diri ketika bermain.

Terlepas dari betapa membahayakannya permainan beresiko bagi anak, permainan-permainan  tersebut ternyata sangat dibutuhkan oleh anak khususnya dalam mengoptimalkan gerak motoriknya. Selain itu, permainan semacam ini juga mengasah kemampuan problem solving, pengontrolan diri, regulasi emosi, pengalaman indra, serta penyesuaian diri ketika mereka berhadapan dengan bahaya.

Berikut Ide “Risky Play” yang dapat diaplikasikan ketika membersamai anak.

❣ ‌Bermain di ketinggian : Bunda dapat mengajak anak memanjat , perosotan, melompat dari tempat tinggi misalnya dari atas kursi atau tempat tidur ke lantai.

❣ ‌Bermain pada kecepatan tinggi : naik sepeda, berlari menuruni bukit, naik ayunan dengan kencang

❣ ‌Bermain dengan benda berbahaya : membuat sesuatu dengan palu, gunting, dan pisau.

❣ ‌Bermain dekat api atau air seperti kolam, sungai, danau, dll : memasak atau berenang.

❣ ‌Permainan fisik yang keras : kejar-kejaran , bergulat, jalan seimbang diatas batang kayu.

❣ ‌Bermain dengan kemungkinan bisa tersasar : mencari jejak, berpetualang di hutan.

Risky Play” memang membuat orang tua ngeri, deg-deg ser rasanya, namun ternyata kaya manfaat bagi anak. Tantangan terbesar ada di tangan orang tua agar belajar untuk mampu  mendukung anak dengan cara yang tepat juga sehat.

Sebab anak tak selamanya bisa kita dampingi, menumbuhkannya menjadi pribadi yang tangguh menjadi salah satu tujuan membersamai mereka.

Yuk! Percayai mereka, percayai bahwa mereka punya kemampuan untuk menolong dirinya sendiri, meski bukan berarti kita membiarkannya tumbuh tanpa adanya pengawasan begitu saja.

Percayai mereka sedari kecil. Percayai mereka dengan dunianya, dunia mereka bermain. Mereka bermain bukan berarti main-main.

Pertanyaan:

Bagaimana jika orangtua overprotektif terhadap anak sampai melarang anak keluar tapi keluarga dekat anak sering mengajak anak untuk main diluar?

Jawaban :

Memang dapat dipahami bahwa di musim pandemi seperti saat ini memang membuat sangat khawatir jika anak bermain diluar. Tapi ada banyak kegiatan stimulasi anak yang tidak akan didapatkan hanya dengan diam di dalam rumah.

Sebagai jalan tengahnya orang tua dapat mengingatkan agar anak selalu mencuci tangan, memakai masker,  dan meminimalisir sentuhan dengan benda2 diluar terutama yang ada di fasilitas umum. Anak juga sebaiknya diajak untuk bermain di tempat-tempat yang tidak ramai.

Referensi :

https://www.instagram.com/p/COJLKSngdTQ/?igshid=m9deltvivz0u

Narasumber :

  • Hartin Rizky S ( Tim Content Creator Sekreg IP Bandung)
  • Tyagita Andini M. (Tim Desain Sekreg IP Bandung)

Leave a Comment