ibu pembelajar

MENJADI IBU PEMBELAJAR

Menjadi seorang wanita dewasa yang telah menikah dan memiliki anak, secara otomatis mengemban tugas dan kewajiban yang berlipat ganda pula. Fitrahnya sebagai wanita, istri, dan ibu masing-masing menuntut perhatian dan perlakuan khusus agar berjalan dengan optimal.
Di zaman milenial ini, sumber belajar sangatlah banyak. Kemudahan akses membuat kita merasa ingin mempelajari semua agar ahli dalam bidang tersebut. Untuk menjadi ibu pembelajar, ilmu yang harus dimiliki tidak ada batasnya. Dari menjadi pribadi yang baik, istri yang mampu memberi rasa nyaman untuk suami hingga menjadi segala-galanya untuk anak.
Bukan perkara yang mudah memang, apalagi tidak adanya sekolah untuk menjadi seorang ibu, sehingga diri ini mencoba untuk menggali ilmu dari sumber manapun. Hal itu terkadang justru mengakibatkan tidak fokus antara belajar dan praktik. Atau mungkin kita sendiri tidak memahami dan mengenal potensi diri kita.
Institut Ibu Profesional merupakan salah satu komunitas yang sedang digandrungi ibu-ibu milenial. Di sini para Ibu diajak untuk lebih fokus dalam belajar, tahap demi tahap agar kelak bisa menjadi Ibu Profesional untuk keluarganya.
Tahap awal setelah pengenalan di Transcity, kita akan masuk ke kelas matrikulasi dimana kita akan diajak menggali potensi diri lebih dalam dan memantaskan diri untuk lebih siap menghadapi tahapan kehidupan selanjutnya. Dari menjadi wanita, istri, dan juga ibu. Pengemasan materi dan proses yang menarik membuat para pembelajar lebih antusias dalam menjalaninya.
Salah satu materi saat matrikulasi yang disampaikan oleh sahabat widya iswara Nesri Baidani tentang Piramida Ibu Profesional yang dibuat oleh Dodik Mariyanto tahun 2018. Piramida tersebut terbagi menjadi dua, yaitu piramida atas dan piramida bawah. Piramida atas menjelaskan bahwa ibu diharapkan mampu mendidik dan mengembangkan anak baik itu minat, bakat dan potensinya. Lalu menjadi ibu yang hebat dalam mengelola keluarga, di sini mengelola keluarga konteksnya sangat luas. Dari kebutuhan religi, gizi, kesehatan keluarga, kebersamaan, keuangan, emosi, dan sebagainya. Jika mampu mencapai dua hal di atas maka akan muncul rasa percaya diri dan ingin terus menerus mengembangkan diri.
Piramida bawah dimulai dari revitalisasi makna ibu. Bahwa baik ibu karir maupun ibu rumah tangga sama-sama memiliki peran ibu yang sama berartinya, bukan sebuah keterpaksaan maupun pengorbanan.
Lalu langkah selanjutnya di Insitut Ibu Profesional, ibu akan melakukan proses pendidikan dan pelatihan sebagai wujud peningkatan kualitas diri sebagai seorang ibu. Setelah itu ibu profesional akan melakukan pengembangan sarana. Di sini ada banyak hal yang bisa dilakukan seperti penelitian yang didukung oleh Institut Ibu Profesional dengan tersedianya media online dan offline, konsultasi dan bimbingan.
Selanjutnya titik jaringan kemandirian perempuan yang berisi tentang pemberdayaan perempuan dalam aspek ekonomi dan sosial dimana ibu profesional akan belajar untuk memulai bisnis yang sesuai dengan passionnya dan dapat pula berbagi pengalaman hingga rancangan bisnis agar ibu profesional dapat membantu perekonomian keluarganya.
Piramida tersebut menuju titik temu, yaitu menjadi ibu yang berakhlak mulia agar dapat memegang amanah terhadap generasinya. Ibu yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula. Menjadi seorang ibu profesional berarti proses belajar yang tiada henti adalah kuncinya. Dari proses belajar maka pola pikir dan perilaku akan berkembang, mampu membedakan baik benarnya, kebermanfaatan dan dampaknya untuk orang lain.


OLEH ROSITA KUSUMA WARDHANI – MAHASISWA MATRIKULASI BATCH 9

Leave a Comment