Anak Kita, Guru Kita

Manusia tempatnya khilaf dan lupa. Lebih banyak kerjaan dari biasanya, lupa di mana menyimpan barang. Banyak fokus, lupa sedang memasak air. Banyak kegiatan sedikit, lupa sedang shaum, dan sebagainya.

Memang sudah fitrahnya, manusia tempat lupa. Tapi, disadari atau tidak, selain fitrah lupa ini manusia pun punya banyak fitrah lainnya, antara lain fitrah untuk bersosialisasi, fitrah akal, dan fitrah rasa. Manusia dapat menyadari khilafnya ketika ia bersosialisasi. Ketika menyadari khilafnya, manusia pun dapat dengan segera mengolahnya dengan rasa dan akalnya untuk mencari solusi dan memperbaikinya.

Bersosialisasi dengan siapapun, semuda apapun usianya, dapat memberikan hikmah yang luar biasa. Itulah kebesaran Allah SWT, menciptakan segala fitrah tanpa sia sia.

Kepolosan anak kecil yang menyerap setiap ‘informasi’ di sekitarnya menjadikan ia guru alami. Ia dapat merefleksikan apa yang didapatnya dengan cara paling sederhana dan lucu. Mengingatkan kita untuk menjaga apa yang dilihat dan didengarnya. Dengan demikian ia hanya akan merefleksikan segala yang baik dan dapat menjadi guru kecil kita.

Maka anak pun akan menjadi tolok ukur kita. Seberapa benar kita telah mendidiknya. Seberapa benar kita mempertemukan ia dengan lingkungan yang baik. Namun, terlepas dari semua upaya kita, perlu kiranya tetap berserah padaNya. Karena hanya atas kehendakNya lah segala sesuatu terjadi.

Penulis: Mahya Rofi’ah Ahmad

Leave a Comment