woman, child, face mask

Sukses MengASIhi Sampai 2 Tahun Saat Pandemi

Masa menjelang menyapih untuk anak saya Rafa. Iya, akhirnya. Setelah menginjak 22 bulan bergulat di perASIan. SAYA SEBENTAR LAGI LULUS JUGAAAA. HOREEEE!

Masa hamil lalu menyusui kurang lebih 2 tahun ini memang menjadi keseharian saya selama ini. Ternyata setiap ibu pasti mempunyai cerita menyusui yang berbeda-beda dalam perjalanannya mengASIhi sampai berhasil menyapihnya. Bagi saya seorang ibu baru dengan anak satu, bisa menyusui selama 2 tahun adalah anugerah luar biasa dari Allah. Alhamdulillah.

Rafa lahir di Oktober 2019, alhasil awal tahun 2020 hingga Insya Allah akan lulus ASI Oktober 2021 nanti kami melewati masa pandemi Covid-19. Tapi, alhamdulillah, selama pandemi dan menyusui ini saya hampir tidak punya masalah persusuan dalam pemberian asupan ASI. Sampai saat menjelang menyapih pun Rafa bekerja sama dengan baik sama saya. Semoga metode Weaning With Love (WWL) berjalan lancar sampai LULUS ASI.

Saat Rafa Positif Covid

Pada Juni 2021, Rafa positif Covid. Iya, kebetulan kami sekeluarga positif covid, ternyata ASI itu terbaik untuk diberikan buat anak. Karena sebentar lagi saya memasuki fase menyapih, menjadi pemikiran saya untuk tetap menyapih 2 tahun atau menunda sementara menyapih untuk menjaga imunitas tubuh Rafa. Saat pandemi sekarang ini muncul istilah Delaying Weaning During Pandemic. Ini ada setelah banyak pernyataan untuk menunda menyapih ketika pandemi.

Bahkan WHO sendiri mengatakan kalau menyusui saat ibu terkena covid itu tidak apa-apa selama menjaga protokol kesehatan agar bayi tidak tertular. Ini berlaku sama pada anak yang terkena Covid dan ibu menyusuinya. Transmisi ASI akan membantu daya tahan tubuh dan membantu pemulihan.

Luar biasa, ya, ASI itu! Sekarang Agustus 2021, Rafa dan kami semua sehat alhamdulillah seperti sedia kala. Tahu, tidak? Rafa satu-satunya orang di rumah yang sembuhnya sangat cepat. Dia demam hanya 1 hari dan pilek 7 hari, tanpa ada batuk sama sekali dan tetap aktif ceria saat isoman. Alhamdulillah semua terlewati.

Ini dia 10 tips menyusui saat pandemi :

1. Jangan lupa lakukan protokol kesehatan. Seperti cuci tangan sebelum menyusui dan kalau positif lebih baik pakai masker dobel, ya.

2. Jangan lupa steril perlengkapan menyusui dan makan agar kuman bakteri tidak ada.

3. Tetap tenang saat positif covid karena bila ibu panik pasti anak tidak akan nyaman juga.

4. Sering menyusu langsung/DBF atau pumping. Supply demand ini adalah poin saat menyusui, jadi semakin banyak kita memberikan ASI maka akan semakin banyak ASI yang akan dihasilkan kembali.

5. Sehatkan badan dan jangan banyak pikiran. Tubuh sehat, pikiran sehat dijamin ASI lancar.

6. Nyaman. Buat semua kegiatan menyusui lancar, mulai dari perlekatan yang baik sampai posisi yang nyaman buat ibu dan anak.

7. Penuhi nutrisi. Makan asupan yang terbaik bagi ibu dan anak. Anak berikan ASI lalu MPASI dan ibu makan yang bergisi sehat seimbang.

8. Bahagia. Otak merupakan hal utama penunjang badan dan tentu ASI. Bila ibu bahagia, anak juga akan merasakan bahagia.

9. Tidur cukup. Walau terasa susah, jam tidur yang cukup akan membuat metabolisme tubuh baik.

10. Pakai perlengkapan menyusui yang tepat.

Ketika memutuskan untuk menyapih, Insya Allah dari sekarang saya coba belajar melakukan metode menyapih dengan cinta, Lebih dikenal dengan slow weaning atau Weaning With Love (WWL). Metode menyapih ini dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap, di saat ibu maupun anak benar-benar merasa siap untuk mengakhiri proses menyusui. Semoga kami berhasil melakukannya. Dikutip dari artikel mom story, motherandbaby.co.id, cerita dari Ibu Nanda Dewi Pribadini, membagikan tips untuk para ibu yang juga berniat melakukan menyapih dengan metode menyapih dengan cinta, yaitu:

1. Komunikasikan Sedini Mungkin

Biasanya, usia 18 bulan sebagai saat yang tepat untuk mulai memberi tahu anak untuk berhenti menyusu, karena Si Kecil sudah mulai berkomunikasi dengan baik dan mengerti cukup banyak instruksi. Bisa saja saat itu reaksinya biasa saja, sedih, atau mungkin marah dan menolak. Tapi jangan bosan untuk memberi tahunya. Jelaskan juga alasan kenapa ia harus berhenti menyusu, dengan kata-kata sederhana, seperti, “Menyusu itu hanya untuk bayi, nanti kalau sudah 2 tahun kamu minum air putih atau jus saja, ya, karena kamu sudah besar”.

2. Jangan Bohong

Menempel payudara dengan plester, mengolesinya dengan obat merah, kunyit, makanan yang pahit, dan lain-lain adalah salah satu hal yang pantang untuk dilakukan jika Anda memutuskan untuk menjalankan WWL. Cara ini bisa memengaruhi psikologis anak, membuatnya merasa bersalah karena ia berpikir Anda sakit karena ia menyusu, membuat ia syok karena tiba-tiba ditolak, sedih, bahkan takut dan bisa menjauh dari Anda.

3. Jangan Menawarkan, Tapi Jangan Menolak

Berhenti menawarkan Si Kecil menyusu untuk membuatnya mudah tidur atau menghentikan tangisnya saat terjatuh. Tapi saat ia meminta, berikan dan jangan pernah mengatakan tidak. Anda boleh saja mengalihkan perhatiannya dengan menawarkan air putih, buah-buahan, atau bermain jika ia meminta menyusu di luar waktu tidur. Jika ia biasa menyusu sebelum tidur, coba tawarkan aktivitas lain seperti membaca buku sebelum tidur, atau mengelus punggung dan menepuk-nepuk kakinya.

4. Rutin Hipnoterapi

Hipnoterapi harus dilakukan dengan kata-kata positif, singkat, dengan suara lambat, dalam, dan tenang, serta dalam waktu yang tepat agar sugesti tersebut bisa masuk ke dalam memori anak hingga ke alam bawah sadarnya. Biasanya hal ini dilakukan menjelang tidur malam, saat Si Kecil berada dalam kondisi sudah sangat mengantuk tetapi masih sadar dan belum benar-benar tertidur.

5. Tetap Dekat

Banyak saran untuk ‘menghilang’ selama beberapa waktu agar Si Kecil melupakan keinginan menyusunya. Tapi, kenyataannya, menyapih bukan berarti membiarkan ia harus menghadapi rasa ‘kehilangan’ itu sendiri. Ia pasti sangat sedih saat tidak bisa menemukan orang terdekatnya. Meskipun ia harus menangis, pasti ia tidak akan merasa kesepian saat Anda menemaninya.

6. Berikan Lebih Banyak Kasih Sayang

Kebanyakan anak berpikir berhenti menyusu, berarti berhenti disayang. Rajin-rajinlah mencium, memeluk, menemaninya bermain, dan katakan Anda mencintainya setidaknya dua kali dalam satu hari. Dengan begitu, ia akan selalu merasa aman, nyaman, serta tidak akan kehilangan momen berdua Anda meskipun harus berhenti menyusu.

7. Ekstra Sabar

Percaya atau tidak, anak-anak memiliki insting yang luar biasa dan mereka akan tahu jika orang tuanya berencana untuk menyapihnya. Bisa jadi, beberapa bulan sebelum anak sukses disapih, ia menjadi lebih rewel, lebih menuntut banyak perhatian, dan lebih sering meminta untuk disusui. Hal ini tentu saja sangat menguras tenaga dan emosi, tapi Moms harus ekstra sabar menghadapinya, karena ternyata ini merupakan pertanda bahwa ia telah siap untuk disapih.

Saya Insya Allah sebentar lagi berhasil melalui menyusui sampai 2 tahun. Pada saat pandemi seperti ini pun saya juga bisa sukses mengASIhi. Dukungan keluarga memang sangat tinggi. Alhamdulillah.

Semangat terus menyusui, ya, Moms!

By : Myrna Mayasari

Leave a Comment