clothing store, shop, boutique

Fast Fashion VS Slow Fashion

Sampurasun teman-teman semua!

Kali ini rumbel menjahit ingin mengangkat suatu fenomena yang lagi happening yaitu berkaitan dengan fashion. Kata fashion itu terdengar keren, ya, teman-teman. Tidak ada habisnya, nih, kalau bahas fashion. Fashion dari tahun ke tahun berkembang menjadi tren yang berbeda-beda. Fashion untuk beberapa orang menjadi hal penting dalam hidupnya, bahkan ada yang menganggap fashion itu penilai tingkat sosial seseorang. Jadi, makna fashion setiap orang bisa berbeda-beda.

Belanja pakaian dulunya mungkin buat beberapa orang hanya untuk acara tertentu atau mungkin kebutuhan tahunan. Atau mungkin ketika pakaian itu sudah tidak muat karena kita sudah bertumbuh tinggi atau bertambah besar. Tapi dalam beberapa puluh tahun terakhir, budaya fashion sekarang berubah. Pakaian menjadi lebih murah, tren berubah cepat, dan bahkan berbelanja menjadi sebuah hobi. Perubahan fashion menjadi cepat disebut sebagai fast fashion dan sudah mendominasi toko-toko di pinggir jalan dan e-commerce.

Sedikit gambaran, fast fashion dapat didefinisikan sebagai pakaian yang murah, pakaian yang up to date atau trendi, yang mengambil contoh/ide dari selebriti atau peragaan busana dan mengubahnya menjadi pakaian di toko-toko dengan permintaan yang tinggi dari konsumen. Tujuannya adalah supaya style terbaru cepat berkembang di pasaran sehingga konsumen masih mendapatkan hingar bingarnya tren terbaru dan efeknya keuntungan untuk industri fashion tersebut. Tapi apabila sudah lewat trennya, seakan pakaian tersebut sudah tidak layak digunakan lagi, sehingga membuat konsumen harus membeli pakaian dengan style up to date.

Kenapa, ya, bisa ada fast fashion?

Untuk memahami ini mungkin kita bisa flashback. Zaman dulu mungkin orang harus berpikir jauh untuk memikirkan pakaian karena hanya orang-orang tertentu yang dapat memperoleh fashion yang trendi. Orang zaman dahulu harus mencari bahan sendiri, menyiapkan untuk menenunnya, menenunnya, baru kemudian membuat pakaian. Semakin kesini, teknologi berkembang, alat tenun sudah mulai canggih, dan yang paling berefek itu adalah terciptanya mesin jahit. Dengan mesin jahit, pakaian menjadi lebih mudah, lebih cepat, dan lebih murah untuk dibuat. Penjahit dapat melayani kalangan-kalangan menengah, hingga membuat garmen. Yang kemudian diikuti dengan keinginan masyarakat yang meluas untuk ikut tren juga menjadi salah satu terbentuknya industri fast fashion.

Fast fashion itu bukan sesuatu yang benar-benar salah bila dilihat dalam segi bisnis. Namun, harus diakui di era pandemi ini merupakan salah satu tahun-tahun yang sulit. Pandemi memaksa semua orang dari segala kalangan mengaktifkan mode bertahan. Semua lini berusaha beradaptasi untuk tetap hidup di kala krisis, termasuk industri fashion. Masyarakat sendiri pun banyak yang berdampak secara keuangan dalam masa pandemi ini. Masyarakat fokus membeli barang-barang penting dan esensial untuk bertahan selama pandemi. Fashion hanyalah pemikiran setelahnya atau mungkin tidak ada di dalam pemikiran beberapa kalangan masyarakat sama sekali.

Selama ini, industri fashion sangat mengandalkan penjualan dari toko-toko fisik. Karena penerapan lockdown selama pandemi, konsumen pun beralih pada pembelian online. Perubahan ini membuat beberapa industri fashion menutup toko fisik dan ikut memanfaatkan teknologi digital. Berbagai label mode memaksimalkan media sosial dan platform e-commerce untuk meningkatkan penjualannnya. Tidak hanya itu, banyak label fashion yang memberikan diskon besar-besaran untuk mendongkrak penjualan langsung di situsnya.

Selama pandemi Covid-19 ini, tidak hanya mengubah gaya bisnis industri fashion, tetapi juga menggeser tren busananya. Beberapa label fashion menyiasatinya dengan melabelkan busana yang seasonless agar tidak terpaku pada musim atau tren tertentu. Salah satu yang menarik akhir-akhir ini adalah meningkatnya tren pakaian olahraga dan pakaian yang nyaman untuk digunakan di rumah. Krisis ini juga mempercepat tren sustainable fashion. Konsumen semakin memperhatikan model bisnis yang meminimalisasi limbah. Hal itu meningkatkan ekspektasi masyarakat akan produksi busana berkelanjutan yang memiliki tujuan tertentu.

Ini yang menjadi salah satu alasan mengapa fast fashion menjadi isu happening. Akan berbeda bila arah masalah ini diangkat dan dihubungkan ke dampak pada lingkungan, hewan, pekerja, bahkan mental konsumen. Secara faktanya memang begitu, tuntutan produksi cepat dan murah, industri fast fashion tidak memperhatikan keselamatan dan upah layak untuk pekerjanya. Dari sisi lingkungan, fast fashion menjadi penyumbang sampah dan polusi air besar kedua di dunia. Ada banyak pabrik pakaian yang menggunakan bahan beracun seperti pewarnanya dalam proses manufakturnya. Selain itu, bahan baku seperti poliester, nilon, dan akrilik yang tidak biodegradable juga menjadi salah satu penyumbang sampah plastik. Akan banyak yang kita akan dapat bahas satu per satu efeknya, membuat kita mulai berpikir makna fashion atau pakaian untuk diri kita masing-masing.

Perlukah kita mempertimbangan kembali kepada slow fashion?

Bukan hanya industri fashion, bahkan banyak masyarakat yang berdampak secara keuangan di era pandemi ini. Sekarang banyak orang yang bergeser pemahaman tentang fashion itu sendiri sejak pandemi, banyak orang lebih memilih ke pemahaman slow fashion dalam gaya busananya.

Sesuai namanya, slow fashion itu kebalikannya dari fast fashion. Kalau fast fashion mementingkan kuantitas dan produksi yang cepat, sedangkan slow fashion lebih meningkatkan kualitas produk dan pemakaian yang lebih lama. Esensi dari slow fashion adalah produksi pakaian yang ramah lingkungan. Memang mungkin lebih mahal tapi banyak beberapa pertimbangan yang bisa kita ambil dari segi lingkungan dan pekerja. Tapi pastinya tetap lebih hemat, bila kita tidak mudah tergoda pada marketing penjualan dari industri fast fashion.

Lalu gimana, nih, cara kita menerapkan slow fashion?

  1. Ubah mindset terkait fashion atau pakaian

Banyak orang yang beranggapan fashion itu identitas seseorang, seperti

“Makin mahal pakaian seseorang itu makin tinggi derajatnya.”

Stylenya tidak up to date, ketinggalan zaman, deh!”

“Tidak keren kalau tidak ikut tren!”

Pertama, seperti yang kita ketahui ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dan ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol. Jadi, fokus saja pada hal yang bisa kita kendalikan. Kita tahu, kalau kita tidak bisa mengendalikan apa yang orang katakan, pikirkan tentang kita. Jadi kita tidak perlu pusing dengan komentar mereka yang tidak penting. Yang bisa kita kendalikan adalah baju yang kita pakai, cara kita bersikap, dan menentukan baju yang akan kita beli atau simpan.

  1. Decluttering

Pasti di lemari masih banyak baju-baju yang tersimpan tapi lupa kalau itu ada; atau bahkan tidak tahu mau dipakai kapan; atau mungkin malah baju yang udah kekecilan masih tersimpan. Nah, ini saatnya declutter, memilah baju-baju tersebut dalam beberapa kategori, yaitu donasi, jual, atau tetap dipakai. Oleh karena itu, jujurlah pada diri sendiri. Kalian bisa mencoba mencatat dan mengingat baju apa saja yang biasa dan sering digunakan untuk tetap digunakan. Lalu, baju-baju yang sudah tidak digunakan selama lebih dari 1 tahun bisa kalian donasikan ataupun dijual bila masih layak jual. Ingat, lho, setiap pakaian juga akan dihisab. hiiiiiiiiiii..

  1. Temukan stylemu

Tidak ada yang salah dan benar dengan style atau gaya berpakaian kamu, apapun pilihan kamu tetap be yourself dan percaya diri. Kalian bisa juga menemukan signature piece. Signature piece itu adalah pakaian ciri khas seseorang. Misalnya Steve Jobs kan bajunya itu-itu saja. Adapun rumus 3C yang menentukan signature piece:

  1. Completion, yakni signature piece adalah pelengkap dari penampilan kita, rasanya kurang lengkap kan kalo Atta Halilintar nggak pakai bandana.
  2. Consistency, yakni signature piece ini biasanya sering kita pakai karena kita suka. Jadi pasti hampir dipakai tiap hari.
  3. Communication, yakni signature piece menyampaikan pesan tentang siapa kita. Misal ada dokter anak bajunya kuning, pink atau warna-warna cerah gambar bunga matahari. Menandakan karakternya dokter itu ceria dan bersemangat.

Intinya, gaya berpakaian kita mencerminkan siapa kita. Apa yang kita sukai. Bagaimana kepribadian kita. Setelah kita tahu personal style kita masing-masing, maka kita tidak akan salah lagi dalam berbelanja atau memilih fashion item yang selaras dengan style kita masing-masing.

Ada beberapa style atau gaya berpakaian, yakni classic, vintage, casual, preppy, boho, glamour, chic, sporty, dan sebagainya. Tidak harus pilih salah satu, tapi mungkin ada 2 atau 3 yang disukai. Karena style kita itu terdiri dari kombinasi core style dan secondary style. Core style biasanya yang lebih dominan, sedangkan style sekunder itu semacam variasi.

  1. Choose your color palette

Langkah kedua setelah kita sudah menentukan style kita,  kita bisa pilih-pilih palet warna. Kenapa harus memilih palet warna? Karena kalau warna pakaian kita random dan tidak rencana, kita sendiri yang agak sulit untuk mix and match. Jadi, tergantung selera masing-masing. Ada yang senang dengan palet warna monokrom, analog, pastel, warna-warna earthy. Dan tidak hanya warna juga, selera motif pun disesuaikan masing-masing.

Berikut panduan untuk memilih palet warna untuk pakaian kita di lemari yang tidak saklek. Teman-teman bisa menemukannya di pinterest untuk warna lainnya. Dari panduan ini akan memudahkan untuk mix and match dan pastinya lebih lama bisa digunakan. Ingat untuk mencari bahan yang baik untuk lingkungan, seperti katun, linen.

Ditulis oleh :

Dian Chairunnisa Sodik (@diansdq)

6 September 2021

Leave a Comment