baby, costume, asian

Dapur Tempat Ternyaman Bagi Kami

Di era digital masa kini, ponsel menjadi salah satu bagian yang tak kalah penting bagi hidup. Lewat benda gepeng tersebut keajaiban dalam rumah pun bisa tercipta, seperti menghilangkan rasa lapar kita misalnya, semua bisa tersaji kilat lewat sentuhan jari. Namun, ada pula yang menjadikan terjun memasak secara langsung menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, khususnya para ibu. Semua sah-sah saja, tidak ada yang salah atau benar tergantung pilihan dan cara pandang masing-masing.

Begitupun bagi saya yang awal mula dulu merasa memasak hanyalah penggugur kewajiban untuk memenuhi isi perut kami. Namun, ketika mulai mendedikasikan diri menjadi ibu yang bekerja di ranah domestik, saya mulai menikmati peran sekaligus menjalin bonding bersama buah hati lewat dapur. Menikmati diamnya dalam dapur adalah our time. Dapur mungil kami menjadi tempat ternyaman dalam rumah dan ternyata qodarullah kami belajar banyak hal dari dapur dari mulai persiapan hingga menjadi sebuah karya nyata.

Ternyata manfaat yang saya rasakan dari dapur bukan hanya menjalin bonding, tapi kita bisa memantik fitrah keimanan dan belajarnya. Seperti melatih anak bersabar dengan mengetahui proses untuk tersajinya sepiring makanan di atas meja kita harus melewati tahapan-tahapannya terlebih dahulu. Selain itu juga melatih motorik, sensorik, sains sederhana, menggali rasa ingin tahunya, melatih problem solving, practical life skills, meningkatkan kecintaan terhadap Sang Khalik, menjadikannya gemar/menyukai aneka makanan, menanamkan rasa syukur, melatih menjaga keamanan diri sendiri, cinta tanah air, dan tak jarang terlontar pertanyaan ajaib yang kadang otak saya ter-freeze untuk menjawabnya. Melalui cooking ataupun baking kami belajar dan membuahkan suatu karya yang bisa kami nikmati bersama sambil bersantai.

Dalam prosesnya tak jarang hampir semua bahan di dapur ananda merasakannya langsung, dari mulai sayur mayur, tahu tempe, aneka rempah, sampai tepung. Tak mengapa bagi saya selama itu masih dalam batas aman. Ia bisa merasakan rasa asli dari panganan tersebut. Efek yang saya dapatkan ia menjadi anak yang tidak picky eater dan tentunya peran ibu tetap sangat penting dengan memberikan contoh karena anak adalah sang peniru ulung.

Jika kita ingin anak menyukai sayur mayur, perlihatkanlah kalau kita pun sangat amazed pada sayur mayur. Jika sulit bagi kita untuk menyukainya, setidaknya janganlah perlihatkan ketidaksukaan kita pada sayur di hadapannya. Karena dalam memori anak bisa saja akan terekam, “Ibu saja tidak suka dan baik-baik saja, tak mengapa.” Karena ibu adalah figur sosok nyata utama dalam kehidupannya yang ia serap segala informasinya ke dalam dirinya. Padahal kita tahu semua yang Allah ciptakan dan halal untuk kita konsumsi mempunyai segudang manfaat bagi tubuh.

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya” (Q.S Abasa:24)

Karedok/lotek mentah menjadi salah 1 makanan favorit Nia, anak saya. Pemberian karedok disertai karbohidrat dan protein lalu diakhiri buah sudah mencukupi kebutuhan pangannya lewat program isi piringku, dimana dalam 1 piring makan gizi seimbang anak balita kita bisa isi dengan 35% karbohidrat, 30 % sayur-buah, 35% protein dan kacang-kacangan.

(Sumber : Google)

  Tahukah kamu? Dari karedok/lotek ini kita mendapatkan segudang manfaat bagi anak. Aneka nutrisi dari sayur mayur yang berada di dalamnya, kacang-kacangan dan buah-buahan.

Kita akan memproses karedok ini bersama. Pertama, kita bisa belajar mengenalkan aneka kondimen apa saja yang terdapat di dalamnya pada anak, seperti kacang panjang, timun, kol,daun kemangi, tauge. Anak akan belajar aneka sayur mayur mulai dari nama-nama sayur, warna, menyentuh, mencium, menggenggam. Dari situ panca inderanya terstimulasi dan dapat menambah kosakata.

Lalu anak akan belajar manfaat dan cara penggunaan dari pisau. Ia belajar melindungi diri dari benda tajam. Anak dapat diikutsertakan kegiatan mengupas dan memotong bahan-bahan. Tentunya dengan ekstra hati-hati sambil kita dampingi sekadar untuk ia bisa merasakan sensasi memotong.

Berikutnya saya memilih memberikan pisau dapur padanya namun dengan tingkat ketajaman yang sangat minim (tumpul) agar ia bisa belajar memotong dengan menggunakan kekuatan ototnya dan kita tidak terlalu khawatir. Ini tergantung pilihan setiap keluarga. Saya memilih mengajarkan benda apapun dalam rumah secara nyata agar ia tahu dan belajar yang sebenarnya sehingga ia bisa tahu benda tajam dapat melukai sehingga harus berhati-hati dan menggunakannya dengan pengawasan ketat.

(Sumber : Pribadi)

  Saat ia memotong, motoriknya terstimulasi. Berlanjut dengan mencuci bahan, ia bisa merasakan sentuhan air sambil membersihkan bahan pangan yang akan ia konsumsi nanti. Tak jarang rasa ingin tahunya membuat ia ingin merasakan sayur secara langsung. Lalu kita akan menyangrai kacang tanah. Dari sini ia pun belajar sains sederhana dari api dimana ia mengetahui lewat pemanasan makanan bisa menjadi matang. Kemudian mengenalkan bumbu rempah, memasukkan bahan ke dalam cobek untuk dihaluskan. Ia belajar berhitung (matematika dasar) dan kekuatan ototnya mulai terlatih saat ia membantu mengulek bumbu kacang, menambahkan sayur mayur, mengaduk sayur mayur dalam cobek, dan memindahkannya dalam piring untuk segera ia santap dengan menambahkan karbohidrat dan protein.

Tak jarang saat berproses membuat makanan, kami berdiskusi banyak hal untuk memupuk rasa syukur dan cintanya terhadap Rabbnya, seperti kenapa kita harus makan, siapa yang menciptakan bahan makanan, kita bisa menikmati makanan melalui apa, dan siapa yang menciptakannya. Daya imajinasinya yang kadang out of the box pun tak jarang membuat saya terhela sejenak.

(Sumber: Pribadi)

Eva Dwi Purnamawati – Rumin DIY Toys

Leave a Comment